Oleh : I Komang Gede Wahyu Gunawan, S.Pd.
SMK Negeri 1 Singaraja turut menyemarakan acara peresmian Revitalisasi Satuan Pendidikan se-Kabupaten Buleleng yang dilaksanakan di aula SMK N 3 Singaraja Jumat, 13 Februari 2026. Pada kegiatan ini, SMK Negeri 1 Singaraja hadir dengan membawa misi memperkenalkan olahan produk lokal warisan luluhur Kabupaten Buleleng yakni Sorghum kepada Undangan dan khususnya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M. Pangan Lokal legendaris buleleng ini disulap menjadi camilan sehat dan kekinian yang kaya protein. Adapun beberapa olahan sorghum yang ditampilkan berupa kue kering, Pie, Bronis Paji, dan Cake. Tentu saja semua produk tersebut adalah hasil dari produk kewirausahaan anak-anak hebat SMK Negeri 1 Singaraja.
Kepala SMK Negeri 1 Singaraja, Kadek Agus Jaya Pharhyuna, A. M., S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa primadona di stand kewirausahaan kali ini yang ditampilkan SMK Negeri 1 Singaraja adalah olahan sorghum, pangan lokal legendaris yang juga merupakan identitas buleleng. Menurutnya, tanaman yang ada pada lambang Singa Ambara Raja yang menggenggam jagung gembal (sorghum) perlu dikenalkan dan membuktikan bahwa warisan leluhur bisa tampil gaya dan penuh gizi di era modern.
Sorghum sendiri di Buleleng, Bali, diyakini telah ditanam sejak lama, bahkan sebelum tahun 1600, menjadikannya tanaman tradisional dengan sejarah panjang. Sorghum lokal di Bali dikenal dengan sebutan pohon buleleng, jagung gimbal, atau cantel, yang menjadi makanan pokok masyarakat sebelum tergantikan oleh padi pada tahun 1980-an. Tanaman ini memiliki keunggulan tahan di iklim kering.
Sorghum (jagung gembal) merupakan pangan yang saat ini semakin jarang di budidayakan. Jagung gembal sebenarnya merupakan nama tanaman dalam genus sorghum yang terdiri atas spesies yang berbeda. Menurut Ir. IGA Maya Kurnia, M.Si (PP Madya pada Distanak Kabupaten Buleleng), dalam bahasa Bali jagung gembal digunakan untuk jenis sorghum budidaya (sorghum bicolor (L.) Moench tanaman asal Afrika Utara, tetapi telah di budidayakan secara luas di kawasan tropis.
Saat ini Sorghum (Sorghum bicolor L.) adalah tanaman serealia yang potensial untuk dibudidayakan dan dikembangkan, khususnya pada daerah-daerah marginal dan kering di Indonesia. Keunggulan sorghum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibading tanaman pangan lain. Selain itu, tanaman sorghum memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, sehingga sangat baik digunakan sebagai sumber bahan pangan maupun pakan ternak alternatif. Dalam tulisan lain dikatakan bahwa tanaman sorghum telah lama dan banyak dikenal oleh petani Indonesia khususnya di daerah Jawa, NTB dan NTT. Di Jawa sorghum dikenal dengan nama Cantel, dan biasanya petani menanamnya secara tumpang sari dengan tanaman pangan lainnya. Produksi sorghum Indonesia masih sangat rendah, bahkan secara umum produk sorghum belum tersedia di pasar-pasar.Di banyak negara biji sorghum digunakan sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku industri.
Sebagai bahan pangan dunia, sorghum berada pada urutan ke-5 setelah gandum, padi, jagung dan barley (ICRISAT/FAO, 1996). Di negara maju biji sorghum digunakan sebagai pakan ternak unggas sedang batang dan daunnya untuk ternak ruminansia. Biji sorghum juga merupakan bahan baku industri seperti industri etanol, bir, wine, sirup, lem, cat dan modifikasi pati (modified starch). Terkait dengan energi, di beberapa negara seperti Amerika, India dan Cina, sorghum telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar etanol (bioetanol). Secara tradisional, bioetanol telah lebih lama diproduksi dari molases hasil limbah pengolahan gula tebu (sugarcane).




