Bagi keluarga besar SMK Negeri 1 Singaraja, perayaan hari suci Siwaratri yang jatuh pada Sasih Kapitu bukan sekadar rutinitas kalender atau ritual tahunan tanpa makna. Di balik malam yang dianggap paling gelap ini, terdapat sebuah transformasi besar yang sedang diperjuangkan: Mencetak Generasi Emas yang unggul dan berkarakter.
Menafsir Ulang Jejak Lubdhaka
Kita semua akrab dengan kisah Lubdhaka karya Mpu Tan Akung. Seorang pemburu yang menghabiskan malam di atas pohon Bilwa karena ketakutan. Namun, di SMKN 1 Singaraja, kisah klasik ini dibawa ke ranah yang lebih membumi dan relevan dengan tantangan zaman sekarang.
“Berburu” dalam konteks pendidikan di sekolah ini tidak lagi diartikan sebagai membunuh binatang di hutan, melainkan memburu nafsu-nafsu kebinatangan yang seringkali menghambat potensi siswa. Sifat-sifat yang harus “diburu” dan “dibunuh” itu antara lain:
Tamasika: Rasa malas yang membelenggu produktivitas.
Moha: Kebodohan atau kebingungan dalam menentukan arah masa depan.
Lobha: Keserakahan yang merusak integritas.
Krodha: Kemarahan yang menutup pintu logika.
Jaga (Begadang) Bukan Sekadar Melek Semalam Suntuk
Ritual Jagarita atau tidak tidur semalam suntuk sering disalahartikan oleh generasi muda sebagai momen untuk begadang sambil bermain game, menonton film, atau sekadar bermain kartu.
SMKN 1 Singaraja memberikan penekanan yang berbeda. Begadang dalam Siwaratri adalah tentang menumbuhkan kesadaran diri (self-awareness). Pohon Bilwa adalah simbol kewaspadaan. Jika kita tertidur (kehilangan kesadaran), kita akan terjatuh. Bukan jatuh dari dahan pohon, melainkan jatuh ke jalan yang salah, terjerumus dalam pergaulan yang merusak, atau kehilangan fokus pada tujuan hidup.
“Siwaratri adalah momentum bagi siswa untuk berefleksi, agar tidak ‘tertidur’ dalam mengejar mimpi dan tetap terjaga di jalan kebenaran.”
Kolaborasi, Bukan Sekadar Kompetisi
Output dari pemaknaan suci ini sangat jelas: menciptakan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja. Generasi emas SMKN 1 Singaraja diharapkan tidak hanya unggul secara teknis (hard skill), tetapi juga memiliki kematangan mental untuk berkolaborasi.
Di dunia kerja modern, kemenangan bukan lagi tentang siapa yang paling cepat menjatuhkan lawan, melainkan siapa yang paling hebat dalam bekerja sama. Dengan membunuh ego dan sifat buruk dalam diri, siswa dipersiapkan menjadi rekan kerja yang tangguh, jujur, dan inovatif.
Terima Kasih, Mpu Tan Akung
Relevansi karya sastra kuno ini membuktikan bahwa nilai-nilai luhur tidak akan pernah lekang oleh waktu jika dimaknai dengan tepat. Terima kasih Mpu Tan Akung, karya sastramu tetap hidup dan “membumi” di lorong-lorong kelas serta sanubari siswa SMKN 1 Singaraja.
Selamat merayakan Siwaratri. Mari terus berjaga, terus berburu kebaikan, dan terus bertumbuh.
© 2025 SMK Negeri 1 Singaraja. Powered by UPT TIK Undiksha.



Discussion about this post