oleh: Kadek Purniani (Guru Bimbingan Konseling)
Emosi merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia dan berperan besar dalam membentuk perilaku seseorang. Namun, ketika emosi tidak dikelola dengan baik, hal tersebut dapat memicu tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Di lingkungan sekolah, masalah pengelolaan emosi seringkali muncul dalam bentuk perilaku agresif, konflik antarsiswa atau pelanggaran disiplin. Untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan mengontrol emosi dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab, guru Bimbingan dan Konseling dapat menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya adalah pendekatan Konseling Realita.
Salah satu contoh penerapan Konseling Realita yakni jika terdapat seorang siswa berinisial A, kelas X (Sepuluh) yang terlibat perkelahian di luar sekolah. Berdasarkan Informasi dari guru BK yang melakukan kolaborasi bersama wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan orang tua siswa di ruang wakasek, siswa yang berinisial A kelas X (sepuluh) berkelahi dengan siswa dari luar sekolah saat pelajaran berakhir yang akibatnya A dilaporkan ke pihak berwenang.
Berdasarkan hasil wawancara awal, siswa A mengakui bahwa ia berkata yang tidak menyenangkan sehingga siswa tersebut merasa tersinggung dan siswa merasa marah muncul secara impulsif dan tidak terkendali, mendorong dirinya berkelahi sebelum kejadian mereka bertemu dan memastika rencana duel mencari Lokasi yang disepakati, saat jam istirahat merekan saling WA untuk memastikan kembali tempat berkelahi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa A belum memiliki keterampilan pengelolaan emosi yang baik. A merasa menyesal menyadari kesalahannya, emosi marah yang tak terkendali bisa menyebabkan memperburuk keadaan. Siswa A Membuat komitmen untuk mengontrol emosi dengan cara berbicara baik-baik saat marah sehingga terjalin hubungan baik dengan teman sekolah. Berdasarkan laporan tersebut, A diberikan layanan konseling individu dengan Pendekatan konseling Realita. Melalui pendekatan ini, siswa dibimbing untuk memahami pilihan perilaku yang diambilnya, menyadari tanggung jawab atas tindakannya, serta belajar mengelola emosi secara lebih sehat dan konstruktif
Pendekatan Konseling Realita menekankan pada konsep pilihan (choice), yang berarti setiap individu memiliki kendali atas perilakunya sendiri dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari pilihan yang dibuat. Dalam konteks sekolah, seorang siswa selalu dihadapkan pada berbagai pilihan misalnya, antara masuk kelas atau membolos, mengerjakan tugas atau menundanya. Setiap pilihan membawa akibat yang berbeda dan menuntut tanggung jawab pribadi.
Dengan demikian, konseling realita berfokus pada bagaimana individu belajar untuk membuat pilihan yang lebih bertanggung jawab. Seseorang tidak dapat selalu mengendalikan hasil dari tindakannya, tetapi ia memiliki kendali penuh atas pilihan perilaku yang ia ambil.
Tujuan utama pendekatan Konseling Realita adalah membantu individu agar dapat memenuhi kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan untuk bertahan hidup, mencintai dan memiliki, berprestasi, kebebasan, serta kesenangan—dengan cara yang realistis, bertanggung jawab, dan sesuai norma sosial. Melalui tahapan konseling, individu diharapkan mampu mengubah perilaku destruktif menjadi perilaku yang lebih positif dan konstruktif.
Tahapan Konseling realita Wants adalah sebagai berikut:
1. Wants: Identifikasi keinginan/kebutuhan individu saat ini.
2. Doing & Direction: Identifikasi tindakan dan arah individu saat ini,
3. Evaluation: Mengevaluasi perilaku.
4. Planning: Perencanaan perilaku baru yang bertanggung jawab.
Berdasarkan hasil layanan konseling individu dengan menggunakan pendekatan Konseling Realita, dapat disimpulkan bahwa masalah yang dialami A berakar pada ketidakmampuan mengendalikan emosi ketika menghadapi situasi yang memicu kemarahan. Melalui tahapan konseling WDEP (Wants, Doing, Evaluation, Planning), A dibantu untuk menyadari bahwa tindakannya merupakan hasil dari pilihannya sendiri dan bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Konseling ini menumbuhkan kesadaran pada diri A bahwa ia memiliki kendali terhadap perilakunya, bukan terhadap orang lain atau situasi di sekitarnya. Dengan pemahaman tersebut, A mulai belajar mengelola emosi secara lebih matang, memilih tindakan yang lebih bertanggung jawab, dan berkomitmen untuk memperbaiki diri agar kejadian serupa tidak terulang.
Melalui pendekatan Konseling Realita, A tidak hanya menyelesaikan masalah perilaku agresifnya, tetapi juga memperoleh keterampilan penting dalam pengendalian diri, yang menjadi dasar bagi hubungan sosial yang lebih sehat dan keberhasilan belajar di masa depan.



