OLEH : PUTU AYU PARYAWATI, S.PD., M.PD (Guru IPAS)
Lingkungan sekolah merupakan tempat utama siswa menjalani proses pendidikan dan interaksi sosial. Lingkungan yang ideal mencakup kondisi fisik yang bersih dan sehat, serta lingkungan sosial yang aman, bebas dari perundungan dan saling menghargai sesama warga sekolah. Sekolah yang nyaman perlu diwujudkan diantaranya dengan: 1) Gerakan Peduli Lingkungan: membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organic/anorganik/residu, dan membawa botol minum / tumbler sendiri untuk mengurangi sampah botol plastik; 2) Penerapan PHBS : perilaku hidup bersih dan sehat ( mencuci tangan dan mengonsumsi makanan sehat); 3) Mengadakan kegiatan rutin seperti kerja bakti atau jumat bersih untuk menjaga fasilitas sekolah secara bersama-sama.
Isu lingkungan seperti krisis penumpukan sampah kerap menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan, kualitas air yang menurun memperlihatkan dampak nyata dari aktivitas manusia yang kurang bijak dalam mengelola sumber daya, pencemaran udara dan beracun akibat pembakaran sampah secara liar. Dalam situasi seperti ini pendidikan memiliki fungsi yang sangat strategis, bukan hanya sebagai ruang transfer pengetahuan , tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter tangguh dan pemberdayaan diri untuk memperoleh pengetahuan, membangun tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu pembelajaran Projek IPAS perlu didesain secara menarik, kontekstual dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah serta kehidupan siswa.
Penerapan pembelajaran projek IPAS dengan pendekatan pembelajaran mendalam menjadi salah satu strategi yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui pendekatan ini siswa tidak hanya diajak memahami konsep secara teoritis, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai penting seperti keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sikap kewargaan yang bertanggung jawab, kemampuan bernalar kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, serta kesadaran akan kesehatan dan komunikasi yang efektif. Pembelajaran yang dirancang dengan baik akan membantu siswa mengaitkan pengetahuan dengan realitas yang mereka hadapi, sehingga mereka mampu menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan nyata yang berkaitan dengan fenomena alam dan sosial di sekitarnya. Lebih jauh lagi, siswa juga akan terlatih dalam mengambil keputusan secara ilmiah, yang pada akhirnya membentuk pribadi yang bijak dan adaptif terhadap perubahan.
Dalam implementasinya, pembelajaran Projek IPAS dikemas melalui pendekatan Project Based Learning yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. Pendekatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi masalah nyata, merancang solusi, dan menghasilkan produk yang memiliki nilai guna. Pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan menjadi proses interaktif yang melibatkan rasa ingin tahu, eksperimen, dan refleksi. Dalam konteks Projek IPAS, pendekatan ini sangat relevan karena mampu mengintegrasikan aspek ilmu pengetahuan alam dan sosial secara harmonis dalam kehidupan sehari-hari siswa. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga mengalami dan menciptakan.
Salah satu implementasi konkret dari pembelajaran ini dapat dilihat pada aspek makhluk hidup dan lingkungannya. Lingkungan sekolah memiliki 5 jurusan, salah satunya adalah jurusan perhotelan. Jurusan perhotelan yang salah satu mapelnya yaitu food and beverage (FB) menghasilkan limbah organik seperti sisa sayuran, kulit buah dan minyak jelantah. Limbah ini di olah menjadi eco enzyme ramah lingkungan dan lilin aroma yang dilakukan oleh siswa kelas X di SMKN 1 Singaraja menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pembelajaran dapat dirancang secara inovatif dan kontekstual. Projek ini hadir sebagai upaya untuk memperkuat kepedulian lingkungan sekaligus mengembangkan solusi kreatif terhadap permasalahan yang sedang terjadi, khususnya terkait limbah organik menjadi sesuatu yang bernilai guna. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi siswa SMK yang diharapkan memiliki keterampilan yang siap diterapkan di dunia kerja. Lebih dari sekadar pembelajaran sains, projek ini juga menumbuhkan sikap peduli lingkungan pada diri siswa. Mereka belajar untuk mengurangi limbah organik, memanfaatkan kembali bahan yang dianggap tidak berguna, serta menggunakan produk yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran ini tumbuh bukan karena paksaan, melainkan karena pengalaman langsung yang mereka rasakan selama proses pembelajaran. Hal ini menjadi penting, karena perubahan perilaku yang berkelanjutan hanya dapat terjadi jika seseorang benar-benar memahami dan merasakan dampaknya.
Pada akhirnya, pembelajaran Projek IPAS dalam pembuatan eco enzyme ramah lingkungan dan lilin aroma merupakan strategi yang efektif untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam satu kesatuan yang utuh. Pembelajaran tidak lagi terfragmentasi, melainkan menjadi pengalaman yang holistik dan bermakna.





