Oleh : I Ketut Martini, S.Pd.
Kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam kehidupan sehari-hari telah mengubah banyak aspek cara manusia bekerja, termasuk cara manusia berbahasa. Hanya dengan beberapa perintah singkat, sebuah sistem AI mampu menghasilkan surat resmi, artikel, bahkan karya sastra dalam hitungan detik. Kalimatnya tersusun rapi, kaidah kebahasaannya benar, dan strukturnya runtut sesuai konvensi. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar bagi dunia pendidikan, khususnya bagi peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK): jika mesin telah mampu menghasilkan teks yang secara teknis sempurna, apa yang masih tersisa sebagai keunggulan manusia dalam berbahasa? Tulisan ini berargumen bahwa jawabannya terletak pada satu unsur yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma manapun, yaitu gaya bahasa yang lahir dari pengalaman hidup dan cara pandang pribadi setiap individu.
Batas Kemampuan Kecerdasan Buatan dalam Berbahasa
Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa kemampuan AI dalam menghasilkan teks pada dasarnya bertumpu pada pengenalan pola dari sejumlah besar data bahasa yang telah ada sebelumnya. Dengan mekanisme tersebut, AI unggul dalam meniru bentuk bahasa: tata kalimat yang baku, pilihan diksi yang lazim, hingga penyesuaian register formal maupun santai sesuai permintaan pengguna. Namun, keunggulan tersebut sekaligus menjadi keterbatasannya. Karena bertumpu pada pola yang sudah ada, hasil tulisan AI cenderung bersifat rata-rata dan umum, mengikuti kecenderungan mayoritas data yang menjadi rujukannya. Akibatnya, teks yang dihasilkan sering kali terasa aman, sopan, namun minim karakter yang membedakannya dari teks-teks lain yang dihasilkan sistem serupa.
Gaya bahasa, sebaliknya, bukan sekadar susunan kata yang benar secara gramatikal, melainkan cerminan dari pengalaman hidup, nilai yang diyakini, serta cara pandang unik seseorang terhadap dunia. Pemilihan kata seseorang yang pernah mengalami kegagalan dan berjuang untuk bangkit akan berbeda dengan orang lain yang belum mengalaminya, sekalipun keduanya menuliskan topik yang sama. Karakteristik semacam ini tidak dapat diperoleh dari basis data teks, karena ia lahir dari kehidupan yang dijalani secara langsung oleh setiap individu.
Relevansi bagi Peserta Didik SMK
Terdapat anggapan yang keliru bahwa gaya bahasa hanya relevan bagi mereka yang menekuni bidang kesusastraan. Padahal, bagi peserta didik SMK yang akan segera memasuki dunia kerja, kemampuan berbahasa dengan gaya personal justru menjadi modal yang bernilai praktis. Pada bidang keahlian Akuntansi maupun Administrasi Perkantoran, misalnya, laporan yang disusun dengan gaya komunikasi yang jelas dan meyakinkan akan lebih mudah dipercaya dibandingkan laporan yang disusun secara kaku mengikuti templat baku. Pada bidang keahlian Perhotelan, cara menyapa dan melayani tamu yang terasa tulus dan personal akan memberikan kesan yang jauh lebih mendalam dibandingkan tuturan yang dihafal secara mentah dari skrip pelayanan. Pada bidang keahlian Digital dan Pemasaran, di tengah derasnya arus konten yang dihasilkan oleh AI dan terasa seragam, suara yang khas dan otentik justru menjadi pembeda yang mampu menarik perhatian khalayak.
Fenomena ini turut memengaruhi proses seleksi tenaga kerja. Sejumlah pihak sumber daya manusia kini mulai dapat mengenali pola tulisan yang dihasilkan secara mentah oleh AI karena keseragaman gayanya. Sebaliknya, narasi personal yang jujur dan spesifik cenderung lebih menonjol dan diingat. Dengan demikian, di tengah dunia yang semakin dipenuhi teks buatan mesin, kemampuan menulis dengan suara sendiri justru menjadi kompetensi yang semakin langka dan karenanya semakin bernilai.
Bukan Penolakan terhadap Teknologi
Pandangan ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk menjauhi teknologi kecerdasan buatan. Pemanfaatan AI sebagai alat bantu dalam menyusun kerangka tulisan, melakukan penelusuran informasi awal, maupun memeriksa kaidah kebahasaan merupakan hal yang wajar dan realistis, mengingat teknologi tersebut telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari dunia kerja masa kini. Persoalan yang perlu menjadi perhatian bukan terletak pada boleh atau tidaknya penggunaan AI, melainkan pada sejauh mana peserta didik tetap mengendalikan proses berpikirnya sendiri. Apabila setiap tulisan sepenuhnya merupakan hasil salin dari keluaran AI tanpa proses berpikir dan penyuntingan pribadi, kemampuan untuk menemukan dan mempertahankan suara sendiri akan mengalami kemunduran secara bertahap.
Kemampuan berbahasa dengan gaya personal dapat dilatih melalui pembiasaan, sebagaimana keterampilan praktik kejuruan lainnya. Menuliskan gagasan secara mandiri sebelum memanfaatkan AI untuk penyuntingan, keterlibatan aktif dalam kegiatan menulis seperti pengelolaan majalah dinding sekolah, serta kebiasaan membaca berbagai tulisan dengan karakter yang kuat merupakan beberapa cara yang dapat ditempuh untuk memupuk kemampuan tersebut secara berkelanjutan.
Perkembangan kecerdasan buatan akan terus berlangsung, dan kemampuannya dalam meniru bentuk bahasa akan semakin canggih dari waktu ke waktu. Meskipun demikian, terdapat satu unsur yang tetap menjadi milik manusia secara utuh, yaitu pengalaman hidup yang khas serta cara memaknainya melalui kata-kata sendiri. Bagi peserta didik SMK yang akan memasuki dunia kerja yang semakin dipenuhi teks generik hasil kecerdasan buatan, justru gaya bahasa yang otentik dan personal itulah yang akan menjadi pembeda dan meninggalkan kesan mendalam, baik di hadapan atasan, mitra kerja, maupun khalayak luas. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi hendaknya tidak sampai menghilangkan proses pencarian dan pemeliharaan suara pribadi dalam berbahasa.



